I Gede Rudia Adiputra Dan Asih Punia Bhakti

Masyarakat Hindu mengenal Dr. Drs. I Gde Rudia Adiputra, M.Ag sebagai seorang penceramah yang rajin turun ke masyarakat. Sebagian mengenal sosoknya sebagai seorang akademisi yang sederhana, tidak banyak bicara dan sempat memimpin IHDN Denpasar. Namun bagi dosen-dosen muda, satu keteladanan sederhana sangat menginspirasi.

Banyak kisah keteladanan yang telah beliau wariskan, salah satunya ketika terkuak bahwa beliau meminjamkan uang pribadi belasan juta kepada mahasiswa dan belum dikembalikan. Mengenai hal ini, beliau tidak berkenan memberikan penjelasan banyak. Beliau hanya berkata tidak tega dengan kesulitan yang dihadapi mahasiswa sehingga mengeluarkan uang dari saku pribadi untuk membantu baik kegiatan mahasiswa maupun kesulitan pribadinya. Beliau sama sekali tidak pernah menunjukkan sikap agresif akan hal tersebut dan pembawaannya tetap tenang. Selain beliau, sejumlah dosen juga memang pernah diperdaya oleh mahasiswa terutama ketika pembayaran SPP masih dilakukan secara manual, dengan alasan masih berada di kampung mahasiswa biasanya meminta bantuan dosen untuk membayarkan SPP mahasiswa, namun tidak pernah diganti. Namun sejumlah dosen menganggap hal-hal seperti itu merupakan bagian dari resiko profesi dan diterima sebagai sebuah pembelajaran sederhana. Beliau juga tidak segan-segan memuji mahasiswa yang mengerjakan karya ilmiahnya dengan baik tanpa harus memiliki kedekatan atau berpikiran sejalan dengan beliau. Beliau senantiasa objektif dalam penilaian tanpa terpengaruh dalam hal-hal pribadi. Demikian pula, dalam membimbing atau mengkoreksi karya mahasiswa, beliau berupaya tekun dan sabar menghadapi mahasiswa yang karyanya belum memenuhi syarat akademik. Beliau berupaya memposisika diri sebagai seorang Bapak yang sabar dalam menuntun hingga layak untuk diluluskan.

Hal yang lain dari Dr. Rudia Adiputra adalah bekerja dalam diam. Beliau tekun berkenan turun ke masyarakat memberikan Dharmawacana sebagai narasumber baik dalam kapasitas pribadi maupun sebagai pengurus PHDI dan tidak pernah memikirkan akan diberikan pengganti transport atau tidak dan bahkan beliau lebih banyak menolak jika dana itu berasal dari masyarakat apalagi mahasiswa. Beliau menyatakan bahwa masyarakat memerlukan teman untuk beridiskusi masalah-masalah agama dan beliau berupaya hadir setidaknya sebagai sesama umat dan bukti dari totalitas pengabdian. Selain itu, beliau berupaya menulis buku-buku sederhana yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Tindakan-tindakan sederhana, pola pikir yang sederhana, gaya hidup yang sederhana, adalah sebuah Bahasa yang kuat dari seorang Rudia Adiputra untuk menginpirasi kaum muda yang kadang bertindak lebih arogan dari seniornya. Ketulusan hati beliau membantu, bahkan terkadang juga menegur keras junor-juniornya yang abai dengan tugas kewajiban sebagai dosen, kadang membekas sebagai sebuah pembelajaran hidup betapa setiap orang harus memberikan penghargaan atas profesinya. Semoga langkah-langkah kecil beliau mampu memberikan dampak yang besar bagi umat Hindu nusantara.

Konsep asih, punia dan bhakti yang beliau ajarkan tidak hanya sebatas pembicaraan belaka, namun beliau implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Cerita-cerita bagaimana Dr. Rudia membantu banyak mahasiswa yang sedang kesusahan adalah bagian dari perjalanan hidupnya. Tentu tidak banyak orang bisa seperti beliau, termasuk juga penulis. Namun yang pasti keteladanan yang beliau telah jalankan akan menjadi abadi dalam relung sanubari penulis.

Sebagai seorang pribadi dosen di IHDN Denpasar, maka setiap mendengar nama Dr. Drs. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag. maka akan terlintas sejarah panjang hasil kerja nyata beliau, diantaranya melakukan penataan bidang akademik STAHN Denpasar. Pengembangan bidang fisik dilanjutkan pembangunan Gedung Bhisma (Aula) serta pembangunan Gedung Rektorat di Bangli, dengan pemancangan tiang beton pertama dilakukan tanggal 14 Agustus 2002. Selain Gedung Rektorat atas bantuan Gubernur Bali dibangun Gedung Perkuliahan berlantai tiga di Kampus Bangli.

Dimasa kepemimpinan beliau juga usaha peningkatan STAHN Denpasar menjadi Institut berhasil diwujudkan, dengan terbitnya Peraturan Presiden No.1 Tahun 2004 pada tanggal 8 Nopember 2004 tentang perubahan STAHN Denpasar menjadi Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar (IHDN Denpasar), dan selanjutnya diresmikan pada tanggal 23 Maret 2005 di Bangli oleh Menteri Agama (H. Maftuh Basyuni). Rektor Pertama IHDN Denpasar untuk masa jabatan 2005-2009 adalah Drs. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag., yang dilantik tanggal 7 Juli 2005.

Sebagai seorang Rektor IHDN Denpasar, Dr. Rudia memimpin bukan hanya bekerja untuk dirinya, apalagi untuk ketenarannya semata. Dr. Rudia mampu mengajak orang bertindak dan meyakinkan orang lain untuk mampu berbuat yang terbaik. Kepemimpinan yang ditunjukkan Dr. Rudia sungguh merupakan pelajaran berharga. Apa yang telah dilakukan oleh Dr. Rudia sejalan dengan konsep Plato yang mengenalkan konsep ”Philosopher Kings” dengan tesis bahwa “pemimpin harus siap menjadi teladan bagi anggotanya”. Kosa kata yang sering didengar untuk mendefinisikan ini dizaman sekarang adalah negarawan.

Dr. Rudia telah memenuhi kreteria seorang negarawan yang memiliki watak baik dan senantiasa menjaga citra dirinya dengan melakukan aktivitas-aktivitas bermanfaat bagi kampus, masyarakat, bangsa dan negara. Sehingga tidak salah jika Dr. Rudia  menjadi sosok yang patut ditiru, digugu dan diperhatikan sepak terjangnya termasuk kehidupan pribadinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *