{"id":368,"date":"2019-10-13T07:33:48","date_gmt":"2019-10-13T07:33:48","guid":{"rendered":"http:\/\/penerbit.org\/?p=368"},"modified":"2019-10-13T07:33:49","modified_gmt":"2019-10-13T07:33:49","slug":"i-gede-rudia-adiputra-dan-asih-punia-bhakti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/2019\/10\/13\/i-gede-rudia-adiputra-dan-asih-punia-bhakti\/","title":{"rendered":"I Gede Rudia Adiputra Dan Asih Punia Bhakti"},"content":{"rendered":"\n<p>Masyarakat Hindu mengenal Dr. Drs. I Gde Rudia\nAdiputra, M.Ag sebagai seorang penceramah yang rajin turun ke masyarakat.\nSebagian mengenal sosoknya sebagai seorang akademisi yang sederhana, tidak\nbanyak bicara dan sempat memimpin IHDN Denpasar. Namun bagi dosen-dosen muda,\nsatu keteladanan sederhana sangat menginspirasi. <\/p>\n\n\n\n<p>Banyak kisah keteladanan yang telah beliau wariskan,\nsalah satunya ketika terkuak bahwa beliau meminjamkan uang pribadi belasan juta\nkepada mahasiswa dan belum dikembalikan. Mengenai hal ini, beliau tidak\nberkenan memberikan penjelasan banyak. Beliau hanya berkata tidak tega dengan\nkesulitan yang dihadapi mahasiswa sehingga mengeluarkan uang dari saku pribadi\nuntuk membantu baik kegiatan mahasiswa maupun kesulitan pribadinya. Beliau sama\nsekali tidak pernah menunjukkan sikap agresif akan hal tersebut dan\npembawaannya tetap tenang. Selain beliau, sejumlah dosen juga memang pernah\ndiperdaya oleh mahasiswa terutama ketika pembayaran SPP masih dilakukan secara\nmanual, dengan alasan masih berada di kampung mahasiswa biasanya meminta\nbantuan dosen untuk membayarkan SPP mahasiswa, namun tidak pernah diganti.\nNamun sejumlah dosen menganggap hal-hal seperti itu merupakan bagian dari\nresiko profesi dan diterima sebagai sebuah pembelajaran sederhana. Beliau juga\ntidak segan-segan memuji mahasiswa yang mengerjakan karya ilmiahnya dengan baik\ntanpa harus memiliki kedekatan atau berpikiran sejalan dengan beliau. Beliau\nsenantiasa objektif dalam penilaian tanpa terpengaruh dalam hal-hal pribadi.\nDemikian pula, dalam membimbing atau mengkoreksi karya mahasiswa, beliau\nberupaya tekun dan sabar menghadapi mahasiswa yang karyanya belum memenuhi\nsyarat akademik. Beliau berupaya memposisika diri sebagai seorang Bapak yang\nsabar dalam menuntun hingga layak untuk diluluskan. <\/p>\n\n\n\n<p>Hal yang lain dari Dr. Rudia Adiputra adalah bekerja\ndalam diam. Beliau tekun berkenan turun ke masyarakat memberikan Dharmawacana\nsebagai narasumber baik dalam kapasitas pribadi maupun sebagai pengurus PHDI\ndan tidak pernah memikirkan akan diberikan pengganti transport atau tidak dan\nbahkan beliau lebih banyak menolak jika dana itu berasal dari masyarakat\napalagi mahasiswa. Beliau menyatakan bahwa masyarakat memerlukan teman untuk\nberidiskusi masalah-masalah agama dan beliau berupaya hadir setidaknya sebagai\nsesama umat dan bukti dari totalitas pengabdian. Selain itu, beliau berupaya\nmenulis buku-buku sederhana yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan.\nTindakan-tindakan sederhana, pola pikir yang sederhana, gaya hidup yang\nsederhana, adalah sebuah Bahasa yang kuat dari seorang Rudia Adiputra untuk\nmenginpirasi kaum muda yang kadang bertindak lebih arogan dari seniornya. Ketulusan\nhati beliau membantu, bahkan terkadang juga menegur keras junor-juniornya yang\nabai dengan tugas kewajiban sebagai dosen, kadang membekas sebagai sebuah\npembelajaran hidup betapa setiap orang harus memberikan penghargaan atas\nprofesinya. Semoga langkah-langkah kecil beliau mampu memberikan dampak yang\nbesar bagi umat Hindu nusantara. <\/p>\n\n\n\n<p>Konsep asih, punia dan bhakti yang beliau ajarkan\ntidak hanya sebatas pembicaraan belaka, namun beliau implementasikan dalam\nkehidupan sehari-hari. Cerita-cerita bagaimana Dr. Rudia membantu banyak\nmahasiswa yang sedang kesusahan adalah bagian dari perjalanan hidupnya. Tentu\ntidak banyak orang bisa seperti beliau, termasuk juga penulis. Namun yang pasti\nketeladanan yang beliau telah jalankan akan menjadi abadi dalam relung sanubari\npenulis.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai seorang pribadi dosen di IHDN Denpasar, maka\nsetiap mendengar nama Dr. Drs.\nI Gede Rudia Adiputra, M.Ag. maka akan terlintas sejarah panjang hasil kerja\nnyata beliau, diantaranya melakukan penataan bidang akademik STAHN Denpasar. Pengembangan\nbidang fisik dilanjutkan pembangunan Gedung Bhisma (Aula) serta pembangunan\nGedung Rektorat di Bangli, dengan pemancangan tiang beton pertama dilakukan\ntanggal 14 Agustus 2002. Selain Gedung Rektorat atas bantuan Gubernur Bali\ndibangun Gedung Perkuliahan berlantai tiga di Kampus Bangli. <\/p>\n\n\n\n<p>Dimasa kepemimpinan beliau juga usaha peningkatan STAHN Denpasar\nmenjadi Institut berhasil diwujudkan, dengan terbitnya Peraturan Presiden No.1\nTahun 2004 pada tanggal 8 Nopember 2004 tentang perubahan STAHN Denpasar\nmenjadi Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar (IHDN Denpasar), dan selanjutnya\ndiresmikan pada tanggal 23 Maret 2005 di Bangli oleh Menteri Agama (H. Maftuh\nBasyuni). Rektor Pertama IHDN Denpasar untuk masa jabatan 2005-2009 adalah Drs.\nI Gede Rudia Adiputra, M.Ag., yang dilantik tanggal 7 Juli 2005. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai seorang Rektor IHDN Denpasar, Dr. Rudia memimpin\nbukan hanya bekerja untuk dirinya, apalagi untuk ketenarannya semata. Dr. Rudia\nmampu mengajak orang bertindak dan meyakinkan orang lain untuk mampu berbuat\nyang terbaik. Kepemimpinan yang ditunjukkan Dr. Rudia sungguh merupakan\npelajaran berharga. Apa yang telah dilakukan oleh Dr. Rudia sejalan dengan\nkonsep Plato yang mengenalkan konsep <em>\u201dPhilosopher\nKings\u201d<\/em> dengan tesis bahwa <em>\u201cpemimpin harus siap menjadi teladan bagi\nanggotanya\u201d<\/em>. Kosa kata yang sering didengar untuk mendefinisikan ini\ndizaman sekarang adalah negarawan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dr. Rudia telah memenuhi kreteria seorang\nnegarawan yang memiliki watak baik dan senantiasa menjaga citra dirinya dengan\nmelakukan aktivitas-aktivitas bermanfaat bagi kampus, masyarakat, bangsa dan\nnegara. Sehingga tidak salah jika Dr. Rudia&nbsp; menjadi sosok yang patut\nditiru, digugu dan diperhatikan sepak terjangnya termasuk kehidupan pribadinya.\n<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masyarakat Hindu mengenal Dr. Drs. I Gde Rudia Adiputra, M.Ag sebagai seorang penceramah yang rajin turun ke masyarakat. Sebagian mengenal sosoknya sebagai seorang akademisi yang sederhana, tidak banyak bicara dan sempat memimpin IHDN Denpasar. Namun bagi dosen-dosen muda, satu keteladanan sederhana sangat menginspirasi. Banyak kisah keteladanan yang telah beliau wariskan, salah satunya ketika terkuak bahwa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[5],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/368"}],"collection":[{"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=368"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/368\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":369,"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/368\/revisions\/369"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}