{"id":313,"date":"2019-09-25T06:55:22","date_gmt":"2019-09-25T06:55:22","guid":{"rendered":"http:\/\/penerbit.org\/?p=313"},"modified":"2019-09-27T04:42:03","modified_gmt":"2019-09-27T04:42:03","slug":"aku-dan-dilan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/2019\/09\/25\/aku-dan-dilan\/","title":{"rendered":"Aku dan Dilan"},"content":{"rendered":"\n<p>Sepertinya judul ini terlalu lebay dan sangat tidak \nlayak menyamakan Dilan dan aku. Dilan adalah sosok pria dengan segala \ncinta dan keberanian berkelahi, sedangkan aku sosok pria nihil cinta dan\n pengecut. Namun mendengar cerita-cerita seru sejawat diruangan kerja, \nanganku selalu terbang untuk membandingkan kisah hidupku sesuai <em>setting<\/em> film Dilan yakni semasa SMA.<\/p>\n\n\n\n<p>Bicara\n sekolah saja Dilan dan aku sudah berbeda. Dilan bersekolah di SMA dan \naku di SMK. Sebuah sekolah yang bukan tujuanku selepas SMP. Sebuah \nsekolah tempat pelarian ketika keinginanku bersekolah di SMKN 5 Denpasar\n (saat itu baru berdiri) tidak kesampaian.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kenapa pelarian, \nkarena aku tidak ingin sekolah PGRI dikampungku. Dari pada bersekolah di\n SMA PGRI dikampung lebih baik pilihan terakhir ini aku ambil walaupun \ndiri ini tidak memiliki darah seni.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertama\n test saja aku sudah tidak bersemangat. Dihadapkan pada \nlembaran-lembaran kertas yang harus aku gores untuk menjadi pertimbangan\n sekolah bahwa aku layak belajar disana.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Walaupun\n akhirnya diterima, aku merasa sekolah ini seperti &#8220;gurun safana&#8221; dimana\n sedikit sekali wanita yang ku lihat. Berbeda dengan saat ini yang sudah\n mulai berimbang antara siswa pria dan wanita, dimasaku hanya ada \nbeberapa wanita saja yang tentunya semua wanita itu sudah ada yang \n&#8220;mengkavling&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalaupun ada, wanita mana yang akan memilihku, pria\n kampung dengan tubuh kurus dan hitam (walaupun tidak pekat), dimana \nteman-teman menganggap aku lebih tepat menjadi tiang listrik daripada \nmanusia sebenarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>SMK ini sesungguhnya sekolah yang hebat, \ndengan guru-guru berkualitas dan berjiwa seni yang luar biasa. Sekolah \nini juga luas dan rindang. Namun hayalan bersekolah di kota (maklum anak\n kampung) dengan kenalan banyak teman wanita termasuk ketiadaan jiwa dan\n minat seni membautku menjadi hampa menginjak halamannya setiap hari. \nDan pilihan &#8220;terpaksa&#8221; sekolah ini juga dimasa kemudian akan berulang \nketika aku harus memilih perguruan tinggi untuk kuliah.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img src=\"https:\/\/assets.kompasiana.com\/items\/album\/2019\/03\/08\/94-5c81cb2643322f320c09871b.jpg?t=o&amp;v=555\" alt=\"Masa Study Tour ke Yogyakarta (1998) - dokpri\"\/><figcaption> Masa Study Tour ke Yogyakarta (1998) <\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Kembali pada kisah Dilan yang diceritakan dengan  penuh haru biru oleh Milea, dengan catatan yang terketik rapi di  laptopnya sungguh cerita &nbsp;cinta yang membuat banyak orang meneteskan air  mata menontonnya. Sebuah kisah percintaan dua insan dengan penuh liku  khas Indonesia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pacaran, marahan, putus, bahkan setelah \nbertahun-tahun terlewati sampai masa mereka bekerja cinta itu abadi. \nSaat menonton film ini, kulihat para sahabatku disebelah sangat \nmenikmati. Terkadang tertawa bahkan diselingi juga dengan butiran air \nmata yang keluar dan jatuh begitu saja tanpa sempat mengusapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimana\n dengan ku? Sungguh aku tidak menikmatinya, terkadang aku menguap karena\n membosankan dan bikin mengantuk. Mengapa aku tidak menikmati film ini? \nJawabannya hanya satu karena kisah hidupku berbeda dengan Dilan. Film \nini sama sekali tidak mempresentasikan hidupku dulu semasa SMK. Dimana \ndimasa itu ku jalani kehidupan ini dengan kesendirian dan perjuangan \nhidup.<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah dimasaku SMK tidak mengenal kata cinta? Tentu tidak.\n Perasaan itu juga menghinggapiku disaat berkenalan dengan para wanita. \nTrus mengapa aku tidak pernah menjalani masa berpacaran? Kalau \npertanyaan ini jawabannya dua.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pertama seperti ceritaku diawal, \nsungguh berat rasanya para wanita itu akan menerima dan mau pacaran \ndenganku. Pria dengan wajah kampungan dan kurus kering, yang tingginya \nmenjulang diatas rata-rata sebayaku. Kedua, kehidupan semasa itu telah \nmembuatku tidak berani menegakkan tubuh, tidak berani mendongakkan \nwajah, aku sadar diri ini siapa sehingga membuatku tidak kuasa \nmengungkapnya rasa kepada para wanita.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img src=\"https:\/\/assets.kompasiana.com\/items\/album\/2019\/03\/08\/81-5c81cc07c112fe4b3b5ccbc4.jpg?t=o&amp;v=555\" alt=\"Menghibur diri ke Kintamani (1999) - dokpri\"\/><figcaption>    Menghibur diri ke Kintamani (1999) <\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Maka jadilah kisah hidup ini berbeda dengan Dilan  yang mampu memikat Milea, sosok wanita yang bahkan guru disekolah saja  terpikat oleh kecantikannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Caraku dulu untuk menarik hati \nwanita terkadang membuatku tertawa hari ini. Bangun pagi-pagi, sok sibuk\n dan rajin memasak, menyapu dan lain sebagainya. Sebuah cara klasik yang\n kini tidak menjadi pertimbangan bagi para wanita dalam menentukan \npilihan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bisa \nmelewati masa SMK sungguh sudah menjadi sebuah prestasi dalam hidupku. \nDiawal menginjakkan kaki di desa itu, aku kost bersama saudaraku, dimana\n memasuki kelas dua ku putuskan untuk pisah. Disaat itu juga kehidupanku\n menjadi lebih berat karena Bapakku meninggalkan aku selamanya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Semasih\n hidup bapakku saja, aku selalu menangis meninggalkan orang tuaku yang \nhanya berdua dikampung, apalagi kemudian hanya ibu saja. Beruntung kakak\n tertuaku mau untuk tinggal dikampung bersama ibuku. Paling tidak ibuku \nada yang diajak disana.<\/p>\n\n\n\n<p>Praktis jalan hidupku setelah bapak meninggal  menjadi lebih terjal. Cinta rasanya semakin menjauh. Aku habiskan  kemudian hanya dengan bekerja dan bersekolah. Segala pekerjaan pernah  kujalani, seperti buruh bangunan, tukang cat, tukang amplas, sampai ada  Guru Made yang memberikan aku kesempatan untuk belajar di perusahannya  Tunjung Putih dengan sosok pahlawan Bapa Sumardika yang mengajariku  mengukir.&nbsp;                     <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img src=\"https:\/\/assets.kompasiana.com\/items\/album\/2019\/03\/08\/35742234-609062589451447-5877367096207212544-n-5c81d05012ae94706c7225a2.jpg?t=o&amp;v=555\" alt=\"Mengukir kayu dan keseharianku - dokpri\"\/><figcaption>PSG di Tunjung Putih<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Kutemukan banyak sahabat yang sedikit memiliki  persamaan dalam masalah percintaan denganku. Sampai akhirnya kami  membentuk grup yang dinamai &#8220;Alih, Aluh, Elah, Ilang&#8221; dengan program  kerja utama berkirim lagu di Gema Merdeka dan Radio AR.                     <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img src=\"https:\/\/assets.kompasiana.com\/items\/album\/2019\/03\/08\/77-5c81cd3daeebe1438a4bc4d2.jpg?t=o&amp;v=555\" alt=\"Crew Alih, Aluh, Elah, Ilang - dokpri\"\/><figcaption> Crew Alih, Aluh, Elah, Ilang <\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>&#8220;Alih, Aluh, Elah, Ilang&#8221; adalah kelompok pria  &#8220;perindu&#8221; cinta, bukan &#8220;penikmat&#8221; cinta. Dengan segala perjuangan keras  super ekstrim untuk mendapatkan seorang wanita. Walaupun sama-sama tidak  memiliki sepeda motor, namun tidak menghalangi kami berkelana selepas  bekerja baik keujung Bali Barat maupun Bali Timur.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi \nseperti diriku sungguh tidak mengenakkan, bahkan aku meyakini tidak \nbanyak yang akan bisa menjalaninya. Jika ku ceritakan dengan para \nmahasiswaku sekarang, mungkin mereka merasa terlalu klasik seperti \ncerita para tetua semasa gunung agung meletus dengan makanan pokok \n&#8220;bungkil kedebong&#8221;.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Namun hidupku seperti itulah yang \nmengantarkan aku menjadi pribadi seperti sekarang. Makan dengan hanya \nberlaukan garam, gula pasir dan bahkan hanya &#8220;nasi single&#8221; sungguh tidak\n ingin hal itu terjadi pada kehidupan anak-anakku kelak.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img src=\"https:\/\/assets.kompasiana.com\/items\/album\/2019\/03\/08\/118-5c81cd4f677ffb6b4b342332.jpg?t=o&amp;v=555\" alt=\"Borobudur (1998) - dokpri\"\/><figcaption> Borobudur (1998) <\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Seragam batik SMK yang terus tersimpan itu memang  tidak berisi kisah-kisah percintaan, namun tetap aku simpan sampai  sekarang untuk mengingatkanku akan kisah kehidupan yang keras itu.  Sehingga disaat melihat baju itu akan selalu mengingatkan aku untuk  terus berjuang, untuk tidak merasa sombong dan tinggi, karena hidupku  bermula dari goresan tinta yang kering.<\/p>\n\n\n\n<p>Salam&#8230;..<br><br>8 Maret 2019<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sepertinya judul ini terlalu lebay dan sangat tidak layak menyamakan Dilan dan aku. Dilan adalah sosok pria dengan segala cinta dan keberanian berkelahi, sedangkan aku sosok pria nihil cinta dan pengecut. Namun mendengar cerita-cerita seru sejawat diruangan kerja, anganku selalu terbang untuk membandingkan kisah hidupku sesuai setting film Dilan yakni semasa SMA. Bicara sekolah saja [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":314,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[5],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/313"}],"collection":[{"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=313"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/313\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":320,"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/313\/revisions\/320"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/314"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=313"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=313"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbit.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=313"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}