I Ketut Sudarsana, yang dikenal dengan gelar akademik Prof. Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H., lahir pada 4 September 1982 di Desa Ulakan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, putra pasangan I Ketut Derani (alm.) dan Ni Ketut Merta. Lingkungan Karangasem yang religius dan kental dengan tradisi Hindu Bali membentuk fondasi spiritual dan karakter dirinya sejak dini. Sejak kecil ia telah terbiasa dengan disiplin hidup desa, kegiatan ngayah di pura, serta kesederhanaan keluarga yang mengajarkannya arti kerja keras dan ketekunan.

Masa sekolah dasarnya di SDN 4 Ulakan menjadi fase awal pembentukan mental mandiri. Salah satu momen yang paling membekas dalam ingatannya adalah ketika ia berjualan jajan di sekolah saat masih duduk di bangku SD. Bukan sekadar aktivitas ekonomi kecil-kecilan, pengalaman itu membentuk rasa tanggung jawab dan keberanian berinteraksi dengan orang lain. Di usia yang masih belia, ia belajar bahwa untuk membantu keluarga dan memenuhi kebutuhan pribadi, usaha harus dilakukan dengan tangan sendiri. Spirit kewirausahaan sederhana itu kelak beresonansi dalam gagasan akademiknya tentang pendidikan dan kemandirian.
Memasuki SMPN 1 Manggis dan kemudian SMKN 1 Sukawati, perjuangan hidupnya tidak berhenti. Saat bersekolah di SMK, ia bekerja ngukir kayu. Dunia kerajinan yang identik dengan ketelitian dan kesabaran melatih daya tahan mentalnya. Mengukir bukan hanya soal keterampilan tangan, tetapi juga tentang fokus, ketekunan, dan kesadaran estetika. Pengalaman bekerja sambil sekolah ini membentuk etos kerja yang kuat, bahwa pendidikan tidak memisahkan diri dari realitas hidup, melainkan berjalan berdampingan dengan perjuangan ekonomi keluarga.

Selepas SMK, ia melanjutkan pendidikan ke STAHN Denpasar (kini UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar) pada Program Studi Pendidikan Agama Hindu. Masa kuliah S1 I Ketut Sudarsana pada rentang 2000–2004 merupakan fase yang sangat menentukan arah hidupnya. Ia memasuki dunia perguruan tinggi di STAHN Denpasar, dengan membawa bekal semangat besar, tetapi kondisi ekonomi yang terbatas. Ia bukan mahasiswa yang datang dengan kemapanan finansial; ia datang dengan tekad. Tahun 2000 menjadi titik transisi dari kehidupan pelajar SMK yang terbiasa bekerja sambil sekolah menuju kehidupan mahasiswa yang jauh lebih menuntut secara intelektual. Di bangku kuliah, ia mulai berhadapan dengan teks-teks filsafat Hindu, pedagogi, metodologi pembelajaran, serta dasar-dasar ilmu pendidikan. Perkuliahan tidak hanya menguji daya hafal, tetapi daya analisis dan argumentasi. Di kelas-kelas pendidikan agama Hindu, ia belajar bahwa menjadi pendidik bukan sekadar menyampaikan ajaran, melainkan mentransformasikan nilai.
Namun tantangan terbesar bukan terletak pada materi kuliah, melainkan pada persoalan ekonomi. Untuk membiayai kebutuhan hidup dan studi, ia harus bekerja serabutan. Ia mengambil berbagai pekerjaan yang tersedia, apa pun yang halal dan memungkinkan untuk menjaga kelangsungan kuliahnya. Ada masa-masa di mana ia harus membagi waktu secara ketat: pagi mengikuti perkuliahan, sore hingga malam bekerja, lalu kembali belajar di waktu yang tersisa. Ritme hidupnya keras, nyaris tanpa ruang untuk bersantai seperti mahasiswa kebanyakan. Kehidupan sebagai mahasiswa dengan keterbatasan dana menuntut manajemen waktu dan energi yang presisi. Ia belajar mengatur prioritas: tugas kuliah tidak boleh terbengkalai, pekerjaan tidak boleh diabaikan. Dalam tekanan itulah mentalnya ditempa. Ia tidak jarang merasa lelah secara fisik, tetapi ia menyadari bahwa kelelahan itu adalah harga dari cita-cita. Prinsip yang terus dipegangnya, “doa ibu mampu mengubah keadaan”, menjadi sumber kekuatan batin. Setiap kali menghadapi kesulitan, ia mengingat perjuangan orang tuanya dan doa yang tak pernah putus untuk dirinya.
Lingkungan kampus juga menjadi ruang pembentukan intelektualnya. Ia aktif berdiskusi dengan teman-teman seangkatan tentang pendidikan Hindu, masa depan generasi muda, serta tantangan modernitas terhadap nilai-nilai dharma. Ia mulai melihat bahwa pendidikan agama harus mampu berdialog dengan zaman. Pengalaman masa kecilnya yang penuh perjuangan membuatnya sensitif terhadap isu kemandirian dan pemberdayaan. Ia tidak ingin pendidikan hanya menghasilkan lulusan yang tahu teori, tetapi juga memiliki daya juang hidup.
Pada tahun-tahun akhir kuliah, ia mulai menunjukkan kecenderungan kuat pada dunia akademik. Ia tertarik pada metodologi dan pengembangan sistem pendidikan. Tugas-tugas akhir tidak ia anggap sekadar kewajiban administratif, melainkan latihan berpikir sistematis. Di tengah segala keterbatasan, ia menjaga indeks prestasi dan reputasi akademiknya. Disiplin yang ia pelajari sejak kecil dari berjualan jajan saat SD hingga bekerja mengukir saat SMK menjadi fondasi etos akademiknya.
Menjelang 2004, saat ia menyelesaikan studi S1, ia bukan lagi remaja desa yang hanya bermodalkan keberanian. Ia telah menjadi sarjana muda dengan kesadaran misi: pendidikan adalah jalan hidupnya. Gelar sarjana yang diraihnya bukan sekadar capaian akademik, melainkan simbol kemenangan atas keterbatasan ekonomi dan ujian mental. Masa 2000–2004 bukan hanya periode kuliah; itu adalah fase pembentukan karakter, disiplin intelektual, dan fondasi spiritual yang kelak mengantarnya menjadi akademisi, doktor, guru besar, dan pemimpin pendidikan Hindu nasional.
Pada tahun 2006, di sebuah ruang yang hening dan sakral di wantilah Pura Suranadi, sebuah pertemuan sederhana menjadi awal dari babak baru kehidupan I Ketut Sudarsana. Ia tidak datang ke pura itu untuk mencari pasangan hidup. Ia datang sebagai narasumber kegiatan youth camp, memohon petunjuk, dan menguatkan langkah dalam perjalanan akademiknya. Namun hidup sering bekerja dengan cara yang sunyi, mempertemukan dua insan bukan di ruang gemerlap pergaulan, melainkan di depan kamar mandi wantilan Pura Suranadi. Di sanalah ia bertemu dengan Adi Purnama Sari dan bertukan nomor handphone.

Hubungan mereka tidak diawali dengan pacaran sebagaimana lazimnya pasangan muda. Tidak ada masa berbulan-bulan saling menggenggam tangan di sudut kota, tidak ada kisah cinta remaja yang penuh gejolak. Yang ada adalah proses saling mengenal yang dewasa, berbicara tentang visi hidup, tentang tanggung jawab, tentang masa depan, dan tentang bagaimana membangun rumah tangga sebagai ladang dharma. Percakapan mereka bukan tentang perasaan sesaat, melainkan tentang komitmen jangka panjang. Dalam tradisi Hindu Bali dan Lombok, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua individu, melainkan penyatuan dua keluarga dan dua garis leluhur. Karena itu, langkah mereka selanjutnya bukanlah memperpanjang masa hubungan, melainkan melibatkan keluarga. Restu orang tua menjadi fondasi. Bagi Sudarsana, doa ibu yang selama ini ia yakini mampu mengubah keadaan, kembali menjadi pusat keyakinan. Ia tidak ingin membangun rumah tangga tanpa restu dan doa keluarga.
Proses menuju pernikahan berlangsung dengan penuh kesadaran. Mereka memahami bahwa pernikahan adalah ruang pengabdian, bukan sekadar kebahagiaan pribadi. Tahun 2009 menjadi saksi ketika keduanya resmi mengikat janji suci dalam upacara adat dan agama. Rangkaian ritual dilaksanakan dengan khidmat, doa-doa dipanjatkan, upacara penyucian dilakukan, dan simbol-simbol penyatuan dijalankan sesuai tradisi. Setiap tahap bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa rumah tangga adalah perjalanan spiritual. Bagi I Ketut Sudarsana, pernikahan ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ia menikah bukan dalam keadaan mapan secara ekonomi, melainkan dalam fase hidup yang masih terus bertumbuh. Namun ia percaya bahwa kemapanan bukanlah syarat utama membangun keluarga; yang lebih penting adalah komitmen, kerja keras, dan doa. Prinsip hidupnya, doa ibu mampu mengubah keadaan, menjadi keyakinan yang menuntunnya melangkah mantap memasuki kehidupan rumah tangga.
Adi Purnama Sari bukan hanya pasangan hidup, tetapi juga sahabat seperjalanan dalam dunia pendidikan dan pengabdian. Rumah tangga yang dibangun tidak hanya menjadi tempat beristirahat dari lelahnya dunia akademik, tetapi juga ruang bertumbuh bersama. Dalam kebersamaan itu lahir anak-anak mereka, yang menjadi sumber kebahagiaan sekaligus motivasi untuk terus berkarya.
Pernikahan tanpa pacaran itu sering dipandang sederhana oleh sebagian orang. Namun justru dalam kesederhanaannya terdapat kedalaman makna. Hubungan mereka tidak dibangun di atas gejolak emosi, melainkan di atas kesadaran dan nilai. Pertemuan di pura menjadi simbol bahwa perjalanan hidup yang besar sering kali dimulai dari momen kecil yang sakral. Di kemudian hari, ketika Sudarsana melangkah lebih jauh dalam karier akademik dan pengabdian nasional, ia tidak pernah melupakan bahwa fondasi ketenangan hidupnya dibangun pada keputusan penting tahun 2009 itu. Di antara doa-doa di Pura Suranadi dan restu keluarga, ia memulai perjalanan baru, merajut kehidupan bersama, menata masa depan dengan keyakinan bahwa setiap langkah yang dilandasi dharma akan menemukan jalannya sendiri hingga kini dikaruniai empat anak: Saraswati Cetta Sudarsana, Kamaya Narendra Sudarsana, Ganaya Rajendra Sudarsana, dan Gayatri Metta Sudarsana.
Karier akademik I Ketut Sudarsana dimulai pada tahun 2005, sebuah fase yang menandai peralihan penting dari mahasiswa menjadi pendidik. Pada 1 Januari 2005, ia resmi mengabdi sebagai dosen di lingkungan UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar (yang saat itu masih berstatus STAHN/IHDN Denpasar). Keputusan memasuki dunia akademik bukan sekadar pilihan pekerjaan, melainkan panggilan hidup yang telah ia siapkan sejak masa kuliah. Ia memahami bahwa menjadi dosen berarti memikul tanggung jawab intelektual dan moral: mentransformasikan ilmu sekaligus membentuk karakter mahasiswa. Di awal pengabdiannya, ia adalah dosen muda yang masih membangun reputasi. Ruang kelas menjadi laboratorium pertamanya. Ia mengajar dengan kesadaran bahwa sebagian mahasiswa yang dihadapinya berasal dari latar belakang yang tidak jauh berbeda dari dirinya, datang dengan harapan, tetapi juga keterbatasan. Pengalaman hidupnya yang penuh perjuangan membuat pendekatan mengajarnya tidak kaku. Ia tidak hanya menyampaikan materi Pendidikan Agama Hindu, tetapi juga menanamkan etos kerja, kedisiplinan, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan mobilitas sosial dan spiritual.

Tahun-tahun awal itu bukan masa yang mudah. Selain mengajar, ia masih harus menyelesaikan studi lanjutnya. Ia menjalani peran ganda: dosen sekaligus mahasiswa pascasarjana. Pagi hingga siang mengajar, malam hari membaca literatur dan menulis tugas akademik. Dalam dinamika itu, ketahanan mentalnya kembali diuji. Namun justru di situlah ia belajar mengelola waktu secara sistematis, sebuah keterampilan yang kelak sangat menentukan dalam perjalanan akademiknya. Setelah menyelesaikan studi magister, fokusnya semakin terarah pada pengembangan keilmuan pendidikan Hindu. Ia aktif menulis artikel ilmiah, menyusun bahan ajar, dan terlibat dalam seminar-seminar akademik. Kesadarannya tumbuh bahwa dunia pendidikan tinggi tidak cukup hanya dengan mengajar; dosen dituntut menghasilkan karya ilmiah yang berkontribusi pada pengembangan disiplin ilmu. Ia mulai membangun kultur riset pribadi, membaca jurnal, mengikuti diskusi ilmiah, serta mengembangkan gagasan tentang integrasi nilai-nilai Hindu dalam sistem pendidikan modern.
Langkah berikutnya yang sangat menentukan adalah ketika ia melanjutkan studi doktoral di Universitas Pendidikan Indonesia. Fase ini memperluas cakrawala intelektualnya. Ia tidak lagi hanya berada dalam lingkup pendidikan agama secara normatif, tetapi memasuki ranah teoritik pendidikan luar sekolah, pemberdayaan masyarakat, dan model pelatihan berbasis nilai. Pengalaman akademik di Bandung mempertemukannya dengan beragam perspektif dan metodologi penelitian yang lebih komprehensif. Di sana, fondasi akademiknya semakin matang.
Setelah meraih gelar doktor pada 2014, karier akademiknya memasuki tahap akselerasi. Ia meningkatkan intensitas publikasi ilmiah, membimbing skripsi dan tesis, serta terlibat dalam pengembangan jurnal dan forum ilmiah. Jabatan akademiknya naik secara bertahap melalui mekanisme angka kredit dan evaluasi nasional. Proses ini bukan sekadar administratif; ia harus membuktikan produktivitas ilmiah, kontribusi riset, dan dampak akademik yang nyata. Dalam perjalanan tersebut, ia juga terlibat dalam pengembangan kurikulum, pelatihan guru, serta penguatan mutu pendidikan Hindu secara kelembagaan. Aktivitas tridharma perguruan tinggi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, dijalankannya secara konsisten. Ia tidak membatasi diri pada ruang kampus, tetapi menjangkau komunitas pendidikan Hindu di berbagai daerah.
Proses menuju jabatan akademik Guru Besar (Profesor) adalah puncak dari akumulasi dedikasi tersebut. Ia harus memenuhi persyaratan publikasi ilmiah bereputasi, menunjukkan kontribusi orisinal dalam bidang pendidikan Hindu dan pengembangan pendidikan luar sekolah, serta melewati proses penilaian ketat dari tim penilai nasional. Perjuangan ini tidak hanya administratif, tetapi intelektual, ia harus membuktikan bahwa pemikirannya memiliki kebaruan (novelty), dampak akademik, dan relevansi sosial. Ketekunan bertahun-tahun akhirnya berbuah pada pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar dalam bidang pendidikan.
Meraih gelar Guru Besar bukanlah akhir perjalanan, melainkan tanggung jawab moral yang lebih besar. Ia kemudian dipercaya menduduki jabatan strategis sebagai Direktur Pendidikan Hindu pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Kementerian Agama Republik Indonesia. Dari seorang anak desa yang berjualan jajan di sekolah dasar dan mengukir kayu saat remaja, ia menapaki perjalanan panjang hingga menjadi profesor dan pemimpin pendidikan nasional.
Jika ditarik garis besar, perjuangan hidup I Ketut Sudarsana menunjukkan pola transformasi yang konsisten: kerja keras sejak kecil, ketahanan menghadapi keterbatasan ekonomi, kesetiaan pada pendidikan sebagai jalan hidup, komitmen pada keluarga, serta keyakinan spiritual bahwa doa ibu mengubah keadaan. Gelar Guru Besar yang diraihnya bukan sekadar simbol akademik, melainkan representasi dari perjalanan panjang yang ditempa oleh kesederhanaan, disiplin, dan sraddha bhakti.