I Ketut Sudarsana lahir pada 4 September 1982 di Desa Ulakan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, sebuah wilayah di Bali Timur yang pada masanya dikenal sebagai daerah dengan keterbatasan akses ekonomi dan pendidikan. Ia berasal dari keluarga sederhana yang hidup dalam kondisi serba kekurangan. Ayahnya, I Ketut Derani (alm.), bekerja sebagai buruh bangunan, mengandalkan tenaga fisik dengan penghasilan yang tidak menentu. Ibunya, Ni Ketut Merta, adalah pedagang kecil di Pasar Ulakan Kecamatan Manggis Karangasem, menjajakan dagangan seadanya demi menopang kebutuhan rumah tangga.
Sejak kecil, I Ketut Sudarsana telah akrab dengan realitas kemiskinan. Rumah sederhana, keterbatasan sandang dan pangan, serta ketidakpastian ekonomi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak jarang, kebutuhan sekolah harus didahulukan dengan mengorbankan kebutuhan lain. Dalam kondisi seperti itu, pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah diakses, melainkan sebuah perjuangan. Namun justru dari keterbatasan itulah tumbuh karakter ulet, disiplin, dan pantang menyerah yang kelak menjadi fondasi kuat perjalanan hidupnya.
Masa kanak-kanaknya diisi dengan membantu orang tua. Ia terbiasa menyaksikan ibunya berangkat ke pasar sejak dini hari dan ayahnya bekerja keras di bawah terik matahari. Pengalaman ini membentuk kesadaran sosial yang mendalam: bahwa hidup harus diperjuangkan, dan ilmu pengetahuan adalah salah satu jalan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan struktural. Sekolah baginya bukan sekadar kewajiban, melainkan harapan.

Dalam perjalanan pendidikannya, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah, I Ketut Sudarsana dikenal sebagai siswa yang tekun, meskipun harus berhadapan dengan berbagai keterbatasan fasilitas dan biaya. Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi adalah keputusan besar, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi keluarganya. Setiap langkah akademik yang ditempuh selalu diiringi dengan pengorbanan ekonomi keluarga. Namun, semangat belajar dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan pembebasan membuatnya bertahan.
Ketika akhirnya memasuki dunia perguruan tinggi dan menempuh pendidikan di bidang Pendidikan Agama Hindu di Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Denpasar, ia membawa serta latar belakang sosialnya sebagai bagian dari identitas intelektual. Kemiskinan yang dialaminya tidak menjadikannya rendah diri, tetapi justru melahirkan kepekaan terhadap isu-isu pendidikan, ketimpangan sosial, dan peran strategis guru dalam transformasi masyarakat. Ia memahami secara langsung bagaimana pendidikan dapat mengubah nasib seseorang dan keluarganya.
Perjalanan akademiknya tidak berhenti pada jenjang sarjana dan magister di Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Dengan kerja keras, disiplin, dan konsistensi yang tinggi, ia melanjutkan hingga meraih gelar doktor di Universitas Pendidikan Indonesia. Setiap capaian akademik adalah hasil dari proses panjang yang penuh keterbatasan, pengorbanan, dan doa. Ia bukan lahir dari keluarga akademisi atau birokrat, melainkan dari rahim kemiskinan yang ditempa oleh kerja keras orang tua.
Kariernya sebagai dosen dan akademisi di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar kemudian berkembang secara signifikan. Dari seorang anak buruh bangunan dan pedagang pasar di Ulakan, ia menapaki jenjang demi jenjang kepangkatan akademik hingga akhirnya mencapai jabatan Guru Besar (Profesor). Capaian ini bukan sekadar prestasi individual, tetapi juga simbol mobilitas sosial berbasis pendidikan dan ketekunan.
Kisah hidup Prof. Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H. adalah representasi nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang mutlak untuk mencapai puncak akademik. Justru dari kehidupan yang serba kekurangan itulah lahir semangat juang, integritas, dan komitmen pengabdian pada pendidikan dan umat. Perjalanan hidupnya menjadi inspirasi bahwa pendidikan, ketika diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, mampu menjadi jalan transformasi diri, keluarga, dan masyarakat.